Beranda Daerah Mahasiswa Politeknik Samarinda Soroti Sisi Lain Program GratisPOL: Lebih dari Sekadar Bantuan...

Mahasiswa Politeknik Samarinda Soroti Sisi Lain Program GratisPOL: Lebih dari Sekadar Bantuan UKT

169
0
BERBAGI

Samarinda, Kalimantan Timur — Program pendidikan GratisPOL yang digagas Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur sejak 2025 hadir sebagai angin segar bagi mahasiswa daerah. Tidak hanya diperuntukkan bagi mereka yang berada dalam tekanan ekonomi, program ini juga menyasar seluruh mahasiswa Kaltim tanpa membedakan latar belakang finansial, mulai dari jenjang S1 hingga S2.

Namun, di balik manfaat finansial yang kerap disorot publik, terdapat sudut pandang berbeda dari Ahmad Alif Rozan, mahasiswa Politeknik Samarinda jurusan Bisnis Digital sekaligus salah satu penerima bantuan tersebut.

“Saya bukan yang paling membutuhkan, tapi tetap merasa program ini membantu.”

Alif berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi stabil. Ia mengakui bahwa dirinya bukanlah mahasiswa yang bergantung sepenuhnya pada bantuan pendidikan.

“Jujur saya sendiri tidak terlalu berharap sama program ini karena alhamdulillah ekonomi keluarga saya berkecukupan,” tuturnya. “Tapi tetap, GratisPOL ini sangat membantu kelancaran studi saya. Kita nggak pernah tahu kondisi ekonomi bisa berubah sewaktu-waktu, jadi program seperti ini bisa jadi solusi.”

Baginya, keberadaan GratisPOL memberikan rasa aman dan memungkinkan mahasiswa lebih fokus pada kegiatan akademik tanpa memikirkan beban biaya yang sewaktu-waktu dapat muncul.

Stereotip Anak Mampu: “Nggak semuanya hidupnya enak dan bergantung pada orang tua.”

Dalam percakapan, Alif menyoal anggapan bahwa mahasiswa dari keluarga berkecukupan selalu hidup nyaman dan tidak membutuhkan dukungan beasiswa. Menurutnya, stereotip itu tidak sepenuhnya benar. Ia menjelaskan bahwa ada dua tipe anak dari keluarga mampu.

Pertama, mereka yang “menikmati keadaan”—mereka merasa segalanya sudah tersedia sehingga tidak memiliki dorongan kuat untuk mandiri.

“Kedua, ada anak yang justru sadar bahwa keluarganya cukup, dan itu jadi motivasi buat mereka biar bisa mandiri,” jelasnya. “Salah satu cara ya dengan meringankan beban orang tua, misalnya lewat beasiswa seperti GratisPOL.”

Bagi Alif, bantuan pendidikan bukan hanya soal kebutuhan ekonomi, tetapi juga tentang membangun kesadaran diri, kemandirian, dan tanggung jawab.

Sebagai penerima manfaat, Alif berharap GratisPOL tidak hanya dipertahankan, tetapi juga dikembangkan. Ia mengusulkan adanya kebijakan alokasi khusus bagi mahasiswa yang lebih membutuhkan—misalnya dengan peningkatan dana biaya hidup, tetapi tetap dalam pengawasan pihak program.

“Harapan saya, mahasiswa yang lebih membutuhkan bisa dapat porsi lebih. Tapi tetap harus dipantau penggunaannya, supaya benar-benar dipakai buat pendidikan,” pungkasnya.(er/ADV Diskominfo Kaltim)

Share Now

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here