Beranda Daerah Antara Harapan dan Kenyataan: Cerita Firsta Milani Ahmad Mengandalkan GratisPOL di Tengah...

Antara Harapan dan Kenyataan: Cerita Firsta Milani Ahmad Mengandalkan GratisPOL di Tengah Tingginya Biaya Kuliah Farmasi

93
0
BERBAGI

Samarinda, Kalimantan Timur — Di balik gedung-gedung megah Universitas Mulawarman, ada cerita tentang perjuangan mahasiswa menghadapi biaya pendidikan yang tak murah. Salah satunya datang dari Firsta Milani Ahmad, mahasiswa Fakultas Farmasi yang menjadi penerima bantuan pendidikan GratisPOL, program unggulan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur di bawah kepemimpinan Gubernur Rudy Mas’ud dan Wakil Gubernur Seno Aji.

Program yang menjanjikan pendidikan gratis untuk jenjang tinggi hingga doktoral itu membawa secercah harapan bagi banyak mahasiswa, termasuk Firsta. Namun, bagi fakultas dengan UKT tinggi seperti Farmasi, GratisPOL ibarat payung kecil yang hadir di tengah hujan deras biaya pendidikan.

“Cukup membantu untuk pembayaran UKT, tetapi tidak menutup keseluruhan biayanya, Kak,” ujarnya, Minggu (30/11/2025).

Sebagai mahasiswa Farmasi, ia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa UKT fakultasnya memang tergolong tinggi.

“Batas atas pemotongan UKT itu 7,5 juta, sementara UKT paling rendah di Farmasi itu 10 juta, Kak”, ungkapnya.

Artinya, masih ada selisih yang harus ditanggung sendiri oleh mahasiswa. GratisPOL, menurutnya, memang meringankan, tapi belum sepenuhnya menghapus beban.

Selain itu, bantuan tersebut hanya mencakup UKT, tanpa menyentuh biaya hidup maupun kebutuhan akademik seperti bahan praktikum, transportasi, atau keperluan kampus lainnya. Meski begitu, Firsta tetap melihat sisi positif dari program ini. Bagi keluarganya, bantuan tersebut memberi sedikit ruang bernapas.

“Saya punya tiga saudara yang masih sekolah dan semuanya butuh biaya juga, Kak. Jadi bisa dibilang GratisPOL ini sedikit meringankan beban ekonomi orang tua saya.”, tuturnya.

Ayahnya adalah seorang PNS, sementara ibunya ibu rumah tangga. Kondisi ekonomi yang harus menghidupi empat anak membuat durasi kuliah menjadi faktor penting.

“UKT di atas 10 juta itu bisa menyulitkan ekonomi keluarga kalau saya terlalu lama kuliah. Jadi saya termotivasi untuk lulus tepat waktu.”, tegasnya.

Menariknya, Firsta mengungkap bahwa keluarganya sempat salah paham tentang program ini.

“Untuk nama programnya agak membuat salah paham. Soalnya GratisPOL, jadi orang tua saya sempat berpikir kalau kami dibiayai full.”, ungkapnya.

Faktanya, bantuan tersebut tidak sepenuhnya menanggung seluruh biaya pendidikan mahasiswa. Hal ini membuat banyak orang tua berasumsi bahwa biaya hidup dan akademik juga ditanggung, padahal tidak.

Meski belum sempurna, Firsta mengapresiasi langkah pemerintah menghadirkan program pendidikan yang menyasar mahasiswa berbagai jenjang, mulai dari S1 hingga S3. Ia berharap ke depannya GratisPOL dapat diperluas jangkauannya, terutama untuk mahasiswa dengan keterbatasan ekonomi.

“Semoga program ini bisa lebih banyak membantu mahasiswa yang memiliki kendala ekonomi”, tutupnya.

Harapan sederhana yang lahir dari pengalaman nyata seorang mahasiswa yang berjuang di tengah tingginya kebutuhan pendidikan kesehatan.(er/ADV Diskominfo Kaltim)

Share Now

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here