Samarinda, Kalimantan Timur – Di sebuah sudut kampus UINSI Samarinda, Rahmanda Berliana tampak masih menyimpan senyum lega, Kamis (04/12/2025). Mahasiswa Perbankan Syariah itu baru saja menyelesaikan kegiatannya ketika berbicara tentang sesuatu yang ia sebut sebagai “angin segar setelah sekian lama menunggu kesempatan”—Program GratisPol dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.
Baginya, GratisPol bukan hanya sekadar program pembebasan biaya pendidikan. Ia menyebutnya sebagai “jalan baru”, sebuah titik balik yang membuat hidupnya terasa lebih lapang.
“Program ini sangat membantu sekali, apalagi di pembayaran UKT. Kondisi keluarga lagi padat kebutuhan, jadi terasa sekali ringannya,” tuturnya dengan mata yang tampak berbinar.
Dengan kebutuhan keluarga yang terus berjalan, Rahmanda tak pernah benar-benar yakin bisa mendapatkan beasiswa. Ia pernah mencoba beberapa, dari beasiswa prestasi hingga kategori kurang mampu, tapi selalu berakhir dengan kata “tidak lolos”.
Namun tahun ini berbeda. Untuk pertama kalinya, ia menjadi salah satu penerima program pendidikan gratis “GratisPol”.
“Rasanya bangga sekali. Dari dulu saya selalu gagal beasiswa. Sekarang akhirnya bisa merasakannya,” katanya lirih, namun penuh kelegaan.
Sejak UKT tak lagi membebani, hari-harinya di kampus terasa lebih ringan. Tidak ada lagi perasaan gelisah menjelang pembayaran semesteran. Tidak lagi harus memikirkan apakah uang bulanan akan cukup menutupi kebutuhan akademik.
“Sekarang saya bisa fokus kuliah. Tekanan biaya itu sangat berkurang, jadi saya bisa mengatur hidup lebih baik,” ujarnya.
Bahkan, rasa percaya dirinya meningkat. Ia mulai memikirkan target-target baru: menjaga IPK agar tetap stabil, meningkatkan prestasi, bahkan menyelesaikan kuliah tepat waktu—bahkan lebih cepat jika keadaan memungkinkan.
“Kalau bisa lulus cepat, insyaallah. Semoga waktunya berpihak. Saya ingin selesai tiga tahun,” katanya sambil tersenyum.
Meski sangat bersyukur, Rahmanda menyimpan satu harapan kecil untuk penyempurnaan program.
“Kalau bisa ada uang saku. Buat transportasi, buat makan… itu sangat membantu,” ucapnya.
Menurutnya, tidak semua mahasiswa memiliki akses finansial yang mudah di luar UKT. Beberapa harus tinggal jauh dari kampus, sebagian lainnya menanggung biaya harian yang tak kalah beratnya.
Dan di antara banyak mahasiswa Kaltim lainnya, Rahmanda hanyalah satu dari sekian cerita. Cerita tentang bagaimana sebuah program bisa membuka pintu-pintu kesempatan, memulihkan harapan, dan menumbuhkan mimpi baru.
“Saya bersyukur sekali. Semoga banyak yang bisa merasakan manfaat ini seperti saya,” tutupnya pelan, namun penuh keyakinan.(er/ADV Diskominfo Kaltim)







