Samarinda, Kalimantan Timur — Di bawah rindangnya pepohonan halaman kampus UIN Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI), Wafiq Azizah bercerita tentang perjalanan akademiknya dan mengenang perjalanan panjang mengurus bantuan pendidikan Program Pendidikan GratisPol 2025. Senyum kecil muncul di wajahnya—senyum lega seorang mahasiswa yang kini dapat menjalani kuliah tanpa memikirkan beratnya tagihan UKT setiap semester.
“Awalnya program ini kurang jelas dan lumayan dipersulit dengan syarat-syarat tertentu, tapi alhamdulillah, setelah semua prosesnya selesai, program ini benar-benar membantu kelancaran dalam melunasi UKT saya”, tuturnya pelan saat diwawancarai, Sabtu (06/12/2025).
Wafiq berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan. Ayah dan ibunya hanya mampu memenuhi kebutuhan dasar, sementara biaya kuliah terus meningkat setiap tahunnya. Program GratisPol menjadi penyelamat di saat keluarga hampir kewalahan menghadapi tagihan UKT serta biaya perlengkapan kampus yang tak sedikit.
“Keluarga saya hanya perlu memikirkan biaya kos saja, pembayaran UKT dan kebutuhan seperti almamater sudah sangat terbantu”, ujarnya.
Menurutnya, keberadaan program ini bukan sekadar bantuan finansial, melainkan ruang aman bagi mahasiswa untuk tetap bertahan di bangku kuliah tanpa harus mengambil pekerjaan sampingan.
“Program ini membantu anak kuliah, terutama yang kekurangan ekonomi, supaya lebih fokus pada pendidikan daripada mikirin biaya. Ada teman-teman yang bisa kuliah tanpa harus bekerja keras untuk memenuhi biaya kuliah”, tambahnya.
Meski sangat terbantu, Wafiq tak menutup mata terhadap kekhawatiran yang muncul. Dengan jumlah mahasiswa penerima yang kian banyak, ia takut pendanaan program ini tidak mencukupi di masa mendatang.
“Khawatirnya dana yang digunakan dalam GratisPol ini nggak mencukupi untuk ke depannya, menggingat banyaknya mahasiswa yang menerima program ini”, katanya.
Karena itu, Wafiq berharap agar pemerintah mengelola program ini secara lebih transparan dan memastikan keberlanjutannya.
“Harapan saya, program ini bisa terus berjalan sampai kami semua lulus. Jangan cuma jadi kebijakan sementara, semoga pendanaannya dikelola secara transparan supaya tidak berhenti di tengah jalan. Kami penerima sangat bergantung pada ini”, ucapnya.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur kembali menghadirkan Program Pendidikan GratisPol 2025, sebagai bentuk intervensi nyata dalam mendorong akses pendidikan tinggi yang lebih merata. Program ini mencakup pembebasan biaya UKT bagi mahasiswa S1, S2, hingga S3 dan menjadi salah satu kebijakan yang paling dinantikan mahasiswa setiap tahun. Di tengah kondisi ekonomi nasional yang belum sepenuhnya stabil, program ini menjadi tumpuan bagi banyak keluarga yang ingin anaknya tetap bisa menempuh pendidikan tinggi tanpa terhambat biaya.
Bagi Wafiq, GratisPol bukan sekadar program bantuan, tetapi jembatan untuk mewujudkan mimpi. Ia berharap pemerintah terus meningkatkan layanan, memperjelas persyaratan, serta mempermudah proses pendaftaran sehingga program ini lebih tepat sasaran dan tidak menyulitkan mahasiswa di tahap awal.
“Yang penting program ini tetap ada dan semakin baik pelaksanaanya. Kami hanya ingin kuliah dengan tenang dan bisa membahagiakan orang tua setelah lulus nanti,” tutupnya.(er/ADV Diskominfo Kaltim)







