Samarinda, Kalimantan Timur — Anisa, Mahasiswa baru UIN Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI), tersenyum kecil saat menceritakan kembali perjalanan yang membawanya akhirnya duduk di bangku kuliah—sebuah perjalanan yang diakuinya tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
“Sebenarnya dulu saya tidak ada niat kuliah, tapi tiba-tiba Allah kasih jalan. Saya keterima SPAN-PTKIN, dan setelah itu saya dengar tentang program GratisPol. Dari situ saya mulai niat untuk kuliah dan bertekad menjalani semuanya dengan baik”, ujarnya jujur saat ditemui, Sabtu (06/12/2025).
Anisa adalah salah satu penerima Program Pendidikan GratisPol, program bantuan pendidikan yang menjadi bagian dari inisiatif Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Bantuan ini akan mulai direalisasikan penuh pada April 2025, dengan fokus utama membebaskan biaya UKT mahasiswa, termasuk para mahasiswa baru seperti dirinya.
Sebagai mahasiswa baru, Anisa mengaku sempat kebingungan dengan sistem pembayaran UKT, terlebih karena ia tidak memiliki banyak gambaran terkait administrasi kampus. Namun sejak mendaftar dan lolos sebagai penerima GratisPol, seluruh kecemasannya perlahan mereda.
“Program GratisPol ini sangat membantu untuk pembayaran UKT, karena saya maba yang mungkin belum terlalu paham soal UKT. Tapi setelah dapat GratisPol, saya jadi tidak memikirkan UKT sama sekali. Saya tidak keluar uang sedikit pun, hanya tinggal menunggu pengumuman”, katanya.
Kelegaan itu menjadi titik balik penting bagi Anisa—membuatnya menjalani awal perkuliahan dengan lebih percaya diri. Meski UKT telah ditanggung oleh pemerintah, Anisa menjelaskan bahwa program GratisPol memang hanya untuk biaya pendidikan. Sementara biaya hidup selama kuliah tetap menjadi tanggung jawab keluarga.
“Biaya hidup itu dari orang tua saya, gratisPol ini hanya untuk pendidikan, bukan untuk kebutuhan sehari-hari”, ujarnya.
Kebutuhan akademik seperti buku dan perlengkapan kuliah pun ditanggung sendiri. Namun itu bukan persoalan bagi Anisa, karena beban terbesar—biaya UKT—telah sepenuhnya terangkat.
Ayah Anisa bekerja sebagai karyawan kebun sawit. Penghasilannya yang pas-pasan membuat pendidikan tinggi sebelumnya terasa seperti mimpi jauh.
“Program ini sangat membantu ekonomi keluarga saya, orang tua saya di rumah tidak perlu lagi memikirkan bayar UKT. Tinggal memberi biaya hidup saya saja”, tuturnya.
Baginya, GratisPol bukan hanya bantuan pendidikan—tetapi juga bentuk keadilan bagi keluarga berpenghasilan rendah agar tetap memiliki akses pendidikan layak. Anisa mengaku bantuan ini justru menumbuhkan tanggung jawab besar dalam dirinya. Dari awal yang tanpa rencana, kini ia justru memiliki komitmen kuat untuk menyelesaikan kuliahnya tepat waktu.
“Program GratisPol memotivasi saya untuk menyelesaikan pendidikan, karena saya merasa ini rezeki. Saya ingin kuliah dengan baik dan menaati aturan kampus”, katanya pelan.
Saat ditanya mengenai harapannya, Anisa menatap jauh sejenak. Program seperti GratisPol, menurutnya, bukan hanya penting untuk dirinya, tetapi juga ribuan mahasiswa lain di Kalimantan Timur.
“Semoga program ini tetap berlanjut sampai lima tahun ke depan, dan bisa memotivasi orang-orang yang tadinya tidak ingin melanjutkan pendidikan”, tegasnya.
Ia berharap pemerintah tetap amanah dalam menjalankan program tersebut agar tidak mengecewakan mahasiswa yang sudah sangat bergantung padanya. Bagi Anisa, GratisPol telah mengubah jalannya sebagai pelajar.
“Kesan saya, program ini sangat membantu pendidikan saat ini, semoga pemerintah bisa amanah dan sukses menjalankan program ini. Kami berharap program ini tidak berhenti di tengah jalan”, tutupnya.(er/ADV Diskominfo Kaltim)







