Samarinda, Kalimantan Timur – Di sebuah kamar kos sederhana di Samarinda, Safa—mahasiswa STAI Samarinda—menyusun masa depannya dengan hati-hati. Ia tahu betul bahwa pendidikan adalah jalan yang ingin ia tempuh hingga selesai.
Sebagai anak kedua dari empat bersaudara, Safa tumbuh dengan kesadaran bahwa perekonomian keluarga harus dibagi untuk banyak kebutuhan. Adik-adiknya masih bersekolah, dan biaya pendidikan tidak pernah murah. Karena itu, hadirnya Program GratisPOL terasa seperti pintu yang membuka harapan baru.
“untuk pembayaran UKT, program gratispol ini sudah pasti sangat membantu sekali”, ungkap Safa.
Meski keluarganya berada pada kondisi ekonomi menengah, biaya UKT tetap menjadi tantangan yang terasa berat. Dengan adanya GratisPOL, beban itu terangkat. Ia tak perlu lagi memikirkan biaya semester yang angkanya tidak kecil.
“Meski untuk kebutuhan akademik seperti almamater dan sebagainya tetap pakai uang sendiri,” lanjutnya.
Namun hal itu tak membuatnya merasa terbebani. Biaya besar—yang paling krusial—telah diambil alih oleh program ini.

Lebih dari sekadar bantuan finansial, bagi Safa, GratisPOL adalah penguat langkah agar ia bisa terus melanjutkan pendidikannya tanpa rasa ragu.
Saat ditanya apa yang membuatnya begitu bersemangat, Safa tersenyum dan berkata tegas:
“Sudah dapat kesempatan beasiswa, masa mau disia-siakan?”
Baginya, kesempatan tidak datang dua kali. Menyelesaikan kuliah tepat waktu bukan hanya soal target pribadi, tetapi juga tentang rasa tanggung jawab terhadap kesempatan yang sudah diberikan serta harapan keluarga yang ia bawa dalam diam.
“Siapa tahu kalau saya lulus tepat waktu, bisa dapat kesempatan GratisPOL lagi untuk S2.”
Impian yang sederhana namun menunjukkan tekad yang kuat: pendidikan tidak berhenti di batas S1.
Dari rumah, orang tua Safa tidak lagi harus memikirkan UKT yang besar jumlahnya. Beban mereka sedikit terangkat, sehingga keuangan keluarga bisa difokuskan untuk kebutuhan adik-adiknya yang masih sekolah.
“Tentu membantu perekonomian keluarga, karena tidak perlu mengeluarkan uang untuk UKT yang lumayan jumlahnya,” ujarnya.
Bagi keluarga dengan empat anak, setiap rupiah yang dapat diselamatkan sangat berarti. Program ini bukan hanya mendukung mahasiswa, tetapi juga menopang kesejahteraan keluarga yang berada di belakang mereka.
“Saya harap program ini berjalan lancar, tanpa hambatan atau berhenti di tengah-tengah sampai kami menyelesaikan pendidikan S1.”
Program ini bukan sekadar beasiswa baginya. Ia adalah jembatan menuju masa depan yang lebih baik. Ia adalah harapan bagi keluarga yang mempercayakan masa depan anak-anaknya pada pendidikan. Ia adalah bukti bahwa kesempatan bisa mengubah hidup, selama seseorang mau mengusahakannya.(er/ADV Diskominfo Kaltim)







