Beranda Daerah GratisPOL Buka Jalan ke Baitullah: Kisah Haru Perjalanan Umrah Junaidi, Marbot Fathul...

GratisPOL Buka Jalan ke Baitullah: Kisah Haru Perjalanan Umrah Junaidi, Marbot Fathul Khair

126
0
BERBAGI

Samarinda, Kalimantan Timur – Di serambi masjid itu, suasana sore semakin temaram. Angin Samarinda yang lembut menyapu halaman, membuat helaian sarung Junaidi bergerak pelan. Di balik tubuhnya yang letih, tampak ketenangan seorang lelaki yang telah lama menyerahkan hidupnya untuk merawat rumah Allah.

Setiap cerita yang keluar dari bibirnya menghadirkan gambaran betapa panjang dan sunyinya perjalanan seorang marbot. Pekerjaan yang jarang dipuji, jarang disorot, namun selalu dibutuhkan. Junaidi menyebut masjid sebagai rumah keduanya—tempat ia menitipkan doa, lelah, dan harapan.

“Masjid ini saksi hidup saya,” katanya sambil menatap karpet hijau yang terhampar rapi. “Di sini saya belajar sabar, belajar ikhlas.”

Perlahan ia menggambarkan kesehariannya: bangun sebelum azan subuh, memastikan lampu-lampu menyala, membersihkan halaman, menyapu ruang salat, dan mengecek tempat wudu agar jamaah merasa nyaman. Tugas-tugas yang mungkin tampak sepele bagi sebagian orang, namun baginya adalah bentuk ibadah.

“Kalau saya sakit, masjid tetap harus bersih. Jadi biasanya saya paksakan pelan-pelan,” katanya sambil menahan batuk kecil.

Ketika momen keberangkatan umrah tiba, Junaidi merasa seperti sedang memasuki babak baru hidupnya. Ia ingat bagaimana jamaah masjid ikut memeluk dan mendoakan, seolah keberangkatannya adalah kebahagiaan seluruh warga sekitar.

Di Mekah, ia merasakan kedamaian yang belum pernah ia temui sebelumnya. Setiap langkah thawaf ia jalani sambil membayangkan puluhan tahun hidupnya—kebahagiaan, kesedihan, perjuangan mencari nafkah, serta rasa syukur yang tak pernah ia lepaskan.

“Saya menangis terus waktu itu… bukan sedih, tapi kayak dilembutkan hatinya,” ujarnya. “Saya merasa kecil sekali di hadapan Allah.”

Kini setelah kembali, Junaidi tidak berubah menjadi seseorang yang berbeda. Ia tetap lelaki sederhana dengan langkah pelan dan senyum teduh. Namun ada sesuatu yang tampak lebih matang di matanya—ketenangan yang lahir dari pengalaman spiritual yang begitu dalam.

Setiap hari, saat membuka pintu masjid sebelum azan pertama berkumandang, ia teringat kembali Ka’bah yang berdiri megah di hadapannya.

“Rasanya seperti dipanggil pulang,” katanya.

Baginya, program umrah untuk marbut bukan hanya hadiah perjalanan, tetapi penghargaan yang mengangkat martabat pekerja rumah ibadah. Ia berharap pemerintah terus melanjutkan program ini agar semakin banyak penjaga masjid yang mendapat kesempatan menapakkan kaki ke tanah suci.

“Yang kami jaga selama ini adalah rumah ibadah. Tidak disangka, akhirnya Allah balas dengan membawa kami ke rumah-Nya,” ujarnya lirih.

Di akhir percakapan, Junaidi menutup dengan sebuah kalimat yang mencerminkan seluruh perjalanannya:

“Kalau kita rawat masjid, Allah yang akan merawat hidup kita.”

Dan di serambi masjid itu, dengan cahaya senja yang mulai memudar, kisah Junaidi terasa seperti pengingat bahwa pengabdian yang senyap pun selalu memiliki tempat istimewa dalam rencana Ilahi.(er/ADV Diskominfo Kaltim)

Share Now

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here