Beranda Daerah Dari Kos ke Kampus: Perjalanan Qanita Menyongsong Cita-Cita Berkat GratisPol

Dari Kos ke Kampus: Perjalanan Qanita Menyongsong Cita-Cita Berkat GratisPol

86
0
BERBAGI

Samarinda, Kalimantan Timur — Di tengah riuh kesibukan awal semester di Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda, Qanita Suraya, mahasiswi Program Studi Hukum Keluarga, terlihat menata berkas kuliahnya dengan senyum lega. Perempuan asal Balikpapan itu masih mengingat jelas bagaimana beratnya memutuskan merantau ke Samarinda untuk menempuh pendidikan tinggi. Namun, keberaniannya itu kini terasa jauh lebih ringan berkat hadirnya Program GratisPol, beasiswa pendidikan gratis dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.

Program ini menanggung seluruh biaya pendidikan mahasiswa, mulai dari Uang Kuliah Tunggal (UKT) atau SPP, hingga jenjang D3, D4, S1, Profesi, S2, Spesialis, bahkan S3. Bagi Qanita, program ini bukan sekadar bantuan, tetapi sebuah peluang besar yang mengubah perjalanan hidupnya.

Merantau dengan Tekad, Bertahan dengan Harapan Qanita mengakui bahwa keputusannya berkuliah di Samarinda bukan hal mudah. Jarak Balikpapan–Samarinda membuatnya harus tinggal di kos, yang tentu menambah beban biaya hidup keluarga.

“Saya bukan berasal dari Samarinda, jadi biaya ngekos dan kebutuhan sehari-hari itu besar sekali. Program GratisPol ini sangat membantu saya untuk bisa tetap berkuliah,” ungkapnya, Senin (01/12/2025).

Dengan pekerjaan ayah sebagai sopir dan ibu sebagai pegawai swasta, Qanita memahami benar bahwa kondisi ekonomi keluarganya pas-pasan. Namun justru hal itu yang menguatkannya untuk berusaha lebih keras.

“Banyak teman SMA saya yang tidak bisa kuliah karena faktor ekonomi. Saya bersyukur sekali bisa mendapatkan kesempatan ini,” tambahnya.

Administrasi Lancar, UKT dan Almamater Ditanggung Menurut Qanita, sejak awal mendaftar hingga proses administrasi, ia tidak menemui kendala berarti. Semua berjalan lancar dan transparan.

“Dari awal perkuliahan, saya benar-benar tidak mengeluarkan biaya apa pun. UKT ditanggung, almamater kampus juga. Memang kemarin pembagian almamater sempat terlambat, tapi sekarang sudah dibagikan walaupun belum merata,” jelasnya.

Ia menilai bahwa GratisPol mampu menjadi penopang utama mahasiswa yang tengah berjuang menjalani masa kuliah, terutama mereka yang merantau seperti dirinya.
Mimpi yang Kini Tidak Terasa Mustahil
Berkat dukungan GratisPol, pandangan Qanita terhadap masa depan semakin terbuka. Ia bahkan menargetkan pendidikan lanjutan hingga ke luar negeri.

“Saya benar-benar bertekad menyelesaikan pendidikan. Kalau bisa, saya ingin melanjutkan sampai luar negeri,” ujarnya penuh semangat.

Harapannya sederhana namun mendalam: ia ingin membuktikan bahwa bantuan pendidikan seperti GratisPol dapat melahirkan generasi Kaltim yang mampu bersaing di tingkat nasional hingga internasional.
Doa dan Harapan untuk Keberlangsungan Program Di akhir wawancara, Qanita menitipkan harapan besar kepada pemerintah daerah.

“Semoga GratisPol terus berlanjut sampai saya menyelesaikan pendidikan dan meraih cita-cita. Semoga program ini bisa mencerdaskan anak-anak Kaltim, terutama mereka yang sempat berhenti sekolah karena masalah ekonomi,” tuturnya.

Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Kalimantan Timur serta seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan program ini.

“Saya sangat berterima kasih. Program ini betul-betul berarti bagi kami yang kondisi ekonominya pas-pasan,” ujarnya.

Dengan kisah Qanita, Program GratisPol kembali membuktikan bahwa pendidikan adalah investasi terbesar bagi masa depan Kalimantan Timur. Program ini bukan hanya tentang beasiswa—tetapi tentang membuka pintu-pintu harapan bagi generasi muda untuk bermimpi lebih jauh dan lebih tinggi.(er/ADV Diskominfo Kaltim)

Share Now

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here