Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menelusuri keberadaan ratusan kios yang belum difungsikan di Pasar Tangga Arung Square (TAS), Kecamatan Tenggarong.
Dari total 700 kios yang tersedia di pusat perdagangan tersebut, sebanyak 530 kios secara administratif telah mengantongi kontrak resmi. Namun, dalam realisasinya di lapangan, banyak dari lapak tersebut yang dibiarkan kosong dan belum dioperasikan oleh para pedagang.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disperindag Kukar, Burhanuddin, menyampaikan bahwa pihaknya telah menerjunkan tim investigasi untuk melakukan verifikasi data by name secara langsung di lokasi.
“Kami ingin melihat kondisi sebenarnya di lapangan. Jadi bukan hanya berdasarkan data administrasi, tetapi kami cek siapa yang menggunakan, bagaimana pemanfaatannya, dan apa yang menjadi kendalanya,” ujar Burhanuddin, Selasa (6/10/2026).
Burhanuddin menegaskan, fasilitas kios yang disediakan oleh pemerintah daerah memiliki aturan pemanfaatan yang ketat. Seluruh pedagang dilarang keras memperjualbelikan maupun mengalihkan hak guna kios kepada pihak ketiga.
Pihaknya berjanji akan mengidentifikasi kendala yang dialami pedagang, sekaligus mengambil langkah tegas jika ditemukan indikasi pelanggaran aturan penyewaan.
“Kalau ada pedagang yang belum memanfaatkan kiosnya, kami perlu tahu apa persoalannya. Kalau memang ada kendala, tentu akan kami lihat. Tetapi kalau pemanfaatannya tidak sesuai ketentuan, itu juga harus kami tindaklanjuti,” katanya.
Selain 530 kios yang kini diaudit, terdapat 170 kios lain di kawasan TAS yang masih dalam tahap penataan administrasi.
Burhanuddin mengakui, rencana revitalisasi kawasan Pasar TAS belum bisa dijalankan secara maksimal akibat adanya pemotongan dan rasionalisasi anggaran pada tahun 2026. Meski begitu, pemetaan data ini diposisikan sebagai langkah krusial sebelum pemerintah menerapkan inovasi pengembangan kawasan secara bertahap.
“Memang perlu waktu untuk melakukan pembenahan. Kami ingin semuanya dipetakan dulu supaya langkah berikutnya lebih tepat dan tidak menimbulkan persoalan baru. Setelah datanya lengkap, kami sudah punya beberapa inovasi yang akan disiapkan,” ungkapnya.
Upaya pembenahan yang dilakukan Disperindag Kukar turut mendapat sorotan dari pengunjung kawasan TAS. Alfareza, salah seorang warga setempat, menilai kawasan tersebut memiliki potensi besar jika dikelola dengan konsep yang lebih modern dan variatif.
Ia menyarankan agar pengelola tidak hanya berfokus pada penataan fisik kios, melainkan juga menghadirkan kebutuhan pokok masyarakat seperti bahan pangan dalam satu kawasan yang tertata rapi.
“Kalau memang tidak ingin ada pasar basah, bisa dibuat konsep semi-mall. Penjual sayur, daging, dan kebutuhan dapur tetap bisa ada, tetapi ditempatkan di area khusus dengan penataan yang lebih rapi,” ucap Alfareza.
Menurutnya, ketersediaan bahan kebutuhan harian dapat menjadi magnet utama untuk mendongkrak daya tarik dan kunjungan masyarakat ke Pasar Tangga Arung Square.
“Biasanya orang datang belanja, apalagi ibu-ibu, mencari kebutuhan dapur. Kalau kebutuhan itu tersedia, mereka bisa sekalian membeli barang atau kebutuhan lainnya. Harapannya tempatnya lebih tertata, pilihan usahanya lebih beragam, dan nyaman untuk dikunjungi,” pungkasnya.(Adv/Diskominfo Kukar)







