Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur (KPwBI Kaltim) terus memperkuat sinergi dalam mendukung ketahanan pangan daerah melalui peningkatan produktivitas dan modernisasi sektor pertanian. Komitmen tersebut diwujudkan melalui Panen demonstration plot (demplot) padi dengan metode Low External Input Sustainable Agriculture (LEISA) dan implementasi digital farming di Gapoktan Mandiri, Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara, yang dibuka langsung oleh Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Seno Aji, dan dihadiri Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur, Jajang Hermawan, bersama unsur Pemerintah Daerah, Forkopimda Provinsi Kalimantan Timur dan Kabupaten Kutai Kartanegara, akademisi Politeknik Pertanian Negeri (Politani) Samarinda, Bulog, kelompok tani, serta mitra strategis lainnya.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari sinergi Bank Indonesia bersama Pemerintah Daerah dan mitra strategis dalam memperkuat kapasitas produksi pangan sekaligus mendorong transformasi pertanian yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan. Rangkaian kegiatan meliputi peninjauan Rice Milling Unit (RMU), uji coba pemanfaatan drone sprayer agriculture, panen padi manual dan penggunaan combine harvester, sebagai wujud penguatan ekosistem pertanian dari sisi hulu hingga hilir. Upaya tersebut sekaligus mendukung implementasi strategi pengendalian inflasi 4K, terutama pada aspek Ketersediaan Pasokan.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur, Jajang Hermawan, menyampaikan bahwa penguatan sektor pertanian perlu terus dilakukan secara konsisten untuk membangun ketahanan pangan daerah yang semakin kuat. Berbagai tantangan, antara lain perubahan cuaca, sumber daya produksi, serta kebutuhan peningkatan efisiensi budidaya, mendorong perlunya penerapan inovasi dan teknologi yang mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga keberlanjutan usaha tani. Dalam mendukung upaya tersebut, KPwBI Kaltim secara konsisten menjalankan berbagai program pengembangan sektor pertanian melalui penerapan digital farming, fasilitasi good agricultural practices, penguatan kelembagaan kelompok tani, serta peningkatan kapasitas dan hilirisasi produk pertanian.

Salah satu implementasinya dilakukan melalui pengembangan budidaya padi berbasis bio-invigorasi benih yang terintegrasi dengan sistem LEISA, hasil kolaborasi KPwBI Kaltim dengan peneliti Politeknik Pertanian Negeri Samarinda. Di tengah tantangan cuaca selama periode budidaya, penerapan LEISA tetap mampu mendorong peningkatan hasil panen padi hingga 6,95 Ton per Hektar atau meningkat sebesar 44,8%. Capaian tersebut memperkuat potensi metode LEISA untuk terus dikembangkan dan direplikasi pada kelompok tani lainnya guna mendukung peningkatan produksi pangan di Kalimantan Timur.
Sementara itu, Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Seno Aji, menambahkan bahwa modernisasi pertanian perlu terus diperluas hingga benar-benar dirasakan manfaatnya oleh petani. Seno Aji juga mengapresiasi kolaborasi Bank Indonesia, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara, Politani Samarinda, dan Gapoktan Mandiri yang dinilai menjadi bukti bahwa pertanian Kalimantan Timur terus bergerak menuju sistem yang lebih produktif, efisien, modern, dan berkelanjutan. Ke depan, implementasi LEISA dan digital farming di Gapoktan Mandiri diharapkan tidak berhenti sebagai demplot, namun terus dievaluasi, dikembangkan, dan direplikasi ke wilayah pertanian lainnya di Kalimantan Timur.
Selain penguatan praktik budidaya, modernisasi pertanian juga didorong melalui pemanfaatan teknologi digital farming berupa drone sprayer agriculture. Implementasi teknologi tersebut di Gapoktan Mandiri mampu meningkatkan efisiensi proses penyemprotan pestisida, pupuk, maupun pembenihan hingga 50 kali lipat, dari sebelumnya membutuhkan waktu sekitar 6–8 jam per hektare menjadi hanya 8–10 menit per hektare. Pemanfaatan teknologi tersebut juga mampu menurunkan biaya produksi sekitar 10%–25%. Hingga saat ini, drone sprayer agriculture telah dimanfaatkan sebanyak 1.637 flights dengan cakupan lahan mencapai 204,82 hektare. Capaian tersebut menunjukkan potensi pemanfaatan teknologi dalam meningkatkan efisiensi usaha tani sekaligus mendorong pertanian yang semakin modern, produktif, dan adaptif.







