Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur – Desa Pela di Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur, terus mengukuhkan posisinya sebagai salah satu destinasi ekowisata berbasis masyarakat yang berkelanjutan di kawasan Danau Semayang.
Melalui Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Bekayuh Baumbai Bebudaya, desa dengan luas wilayah 2.724 hektare ini konsisten mengedukasi 592 jiwa penduduknya untuk menerapkan prinsip Sapta Pesona demi menyambut para pelancong lokal maupun mancanegara.
Ketua Pokdarwis Desa Pela, Alimin, mengungkapkan bahwa keterlibatan aktif warga dalam menjaga ekosistem perairan dan satwa langka Pesut Mahakam menjadi kunci utama daya tarik kawasan ini.
“Penguatan Sapta Pesona yang mencakup rasa aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, dan memberikan kenangan menjadi fondasi utama kesadaran wisata warga Pela,” kata Alimin, Minggu (25/10/2026).
Sejak dibentuk pada 11 September 2017, Pokdarwis Desa Pela berupaya mengoptimalkan potensi mata pencaharian warga yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan tradisional. Selain menangkap ikan, warga juga mengolah hasil perikanan menjadi produk ekonomi kreatif seperti kerupuk, abon, dan ikan asin.
Sebagai salah satu pelopor desa wisata tertua di Kutai Kartanegara, Desa Pela menawarkan pengalaman ekowisata unik. Wisatawan dapat menyaksikan kehidupan mamalia air tawar Pesut Mahakam di habitat aslinya, menikmati sunset di Tanjung Tamanoh, serta merasakan pengalaman pasar subuh nelayan di Danau Semayang.
Tak hanya keindahan alam, pengunjung juga disuguhi atraksi seni dan budaya lokal seperti Tari Tradisional, seni bela diri Kuntau, musik Tingkilan, hingga kemeriahan Pesta Danau Pela.
“Untuk menunjang kenyamanan pengunjung, saat ini sudah tersedia lima unit homestay, warung makan, kios suvenir, serta dukungan jaringan telekomunikasi yang memadai,” ungkapnya.
Komitmen kelestarian lingkungan dan budaya tersebut terbukti mampu menarik ribuan wisatawan setiap tahunnya. Pokdarwis mencatat, jumlah kunjungan wisatawan mencapai 11.119 orang pada 2023, 4.998 orang pada 2024, dan naik kembali menjadi 9.829 orang pada 2025.
Sementara pada tahun 2026, akumulasi kunjungan wisatawan hingga bulan Juli sudah menyentuh angka 4.572 orang.
Guna mempertahankan tren positif ini, Pokdarwis memfokuskan program kerja pada peningkatan kapasitas SDM, promosi digital, gotong royong pemeliharaan objek wisata, dan penguatan produk UMKM lokal.
Alimin menegaskan bahwa keberlanjutan ekowisata berbasis masyarakat ini tetap membutuhkan dukungan sinergis dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kutai Kartanegara.
“Dukungan pemerintah daerah melalui pelatihan SDM, bantuan sarana prasarana, perbaikan akses jalan, hingga penyelenggaraan Festival Danau Semayang sangat penting untuk menjaga optimisme warga dalam mengembangkan pariwisata desa,” pungkasnya.(Adv/Diskominfo Kukar)







