Beranda Daerah Bupati Kukar Jadikan Sejarah Fondasi Pembangunan di HUT ke-244 Tenggarong

Bupati Kukar Jadikan Sejarah Fondasi Pembangunan di HUT ke-244 Tenggarong

18
0
BERBAGI
Suasana khidmat prosesi ziarah makam pendiri Tenggarong, Sultan Aji Imbut, yang dipimpin langsung oleh Bupati Kukar Aulia Rahman Basri di kompleks makam raja-raja Kutai, Senin (28/9/2026).

Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur  – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-244 Kota Tenggarong diisi dengan kegiatan refleksi mendalam oleh Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Bupati Kukar Aulia Rahman Basri memimpin langsung ziarah ke makam Sultan Aji Imbut dan para raja Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Senin (28/9/2026).

Kegiatan yang bertempat di kompleks pemakaman raja-raja Kutai di Tenggarong ini menjadi salah satu rangkaian utama peringatan hari jadi kota yang telah berusia lebih dari dua abad. Ziarah tersebut tidak hanya dimaknai sebagai wujud penghormatan kepada para pendahulu, tetapi juga sebagai ruang refleksi untuk menelusuri kembali jejak sejarah berdirinya Tenggarong.

Bupati Aulia mengungkapkan bahwa sejarah Tenggarong lahir dari perjuangan panjang Sultan Aji Imbut ketika memindahkan pusat pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara dari Pemarangan ke Tepian Pandan, yang kemudian berkembang menjadi Kota Tenggarong. Menurutnya, langkah strategis tersebut sarat akan nilai keberanian dalam mengambil keputusan demi masa depan yang lebih baik.

“Yang perlu dipahami generasi sekarang, Tenggarong tidak hadir begitu saja. Ada perjuangan dan keputusan besar yang dilakukan Sultan Aji Imbut saat memindahkan pusat pemerintahan hingga akhirnya berkembang menjadi kota yang kita kenal saat ini,” ujar Aulia.

Bupati Kutai Kartanegara Aulia Rahman Basri bersama jajaran memanjatkan doa saat ziarah ke kompleks makam Sultan Aji Imbut dan para raja Kesultanan Kutai Kartanegara dalam rangkaian HUT ke-244 Kota Tenggarong, Senin (28/9/2026).

Ia menjelaskan, perpindahan tersebut bukan sekadar perubahan lokasi pemerintahan, melainkan bentuk adaptasi menghadapi dinamika zaman. Dari peristiwa tersebut, masyarakat dapat memetik pelajaran bahwa perubahan adalah hal yang tak terhindarkan untuk mencapai kemajuan.

“Sejarah mengajarkan bahwa perubahan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari ketika ingin mencapai kondisi yang lebih baik. Itu yang ditunjukkan oleh Sultan Aji Imbut pada masanya,” tambahnya.

Lebih lanjut, Aulia menegaskan bahwa nilai-nilai kepemimpinan, keberanian, dan pengabdian yang diwariskan para pemimpin terdahulu harus menjadi inspirasi utama bagi pemerintah daerah dalam menjalankan roda pemerintahan dan melanjutkan pembangunan saat ini.

Semangat kesejarahan dan kedekatan antara pemimpin dengan masyarakat ini, kata Aulia, turut tercermin dalam pelaksanaan Erau Adat Kutai 2026 yang mengusung tema “Raja Menjamu Rakyatnya”. Tema tersebut menggambarkan hubungan harmonis yang dibangun atas dasar pelayanan serta penghormatan kepada warga.

“Kita ingin nilai-nilai itu tetap hidup. Masyarakat harus menjadi bagian utama dari setiap pembangunan yang dilakukan pemerintah,” pungkasnya.(Adv/Diskominfo Kukar)

Share Now

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here