Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus bergerak aktif melakukan roadshow ke sejumlah kementerian di Jakarta guna memaksimalkan pembangunan daerah di tengah tantangan efisiensi anggaran. Langkah jemput bola ini membuahkan hasil positif, mulai dari dukungan sektor perikanan, percepatan pembangunan infrastruktur jalan, hingga kesiapsiagaan menghadapi ancaman fenomena iklim.
Bupati Kukar Aulia Rahman Basri mengungkapkan, selain berkoordinasi dengan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), pihaknya juga memperkuat sinergi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Melalui kerja sama ini, Kukar mendapatkan alokasi program Kampung Nelayan Merah Putih terbanyak di Kalimantan Timur (Kaltim) dengan total sembilan titik. Kawasan tersebut nantinya juga akan disempurnakan dengan pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) untuk mempermudah akses BBM bersubsidi bagi nelayan.
“Kalau Kampung Nelayan Merah Putih, kita merupakan daerah di Kaltim yang punya paling banyak sembilan titik kita di Kaltim dapat bantuan dari Kampung Nelayan Merah Putih ini,” ujar Aulia, Jumat (6/11/2026).
Selain sektor perikanan, pemkab juga mengoptimalkan komunikasi dengan Kementerian Keuangan dan PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI). Dalam proses ini, Pemkab Kukar turut dibantu oleh anggota DPR RI, Budi Satrio Dewandono, untuk mendorong percepatan penyaluran dana kurang salur dari pusat. Dana tersebut diarahkan untuk merampungkan sejumlah pekerjaan rumah besar di sektor infrastruktur, seperti Jalan Sebulimbingan, Jalan Muara Wis–Kota Bangun, Jalan Ibu Kota Kecamatan Kota Bangun Darat, Jembatan Sebulu, hingga penanganan kebakaran di kawasan padat penduduk.
“Untuk mengatasi keuangan kita, kita dibantu juga oleh anggota DPR RI Bapak Budi Satrio Dewandono untuk nge-push bagaimana dana kurang salur yang ada di pusat itu bisa disalurkan dengan baik melalui beberapa skema,” katanya.
Di samping pembangunan fisik, Pemkab Kukar juga mengantisipasi perkiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait potensi peralihan cuaca menuju La Nina pada tahun depan. Untuk mengantisipasi potensi anomali iklim dan menjaga ketahanan pangan, pemerintah daerah telah mengidentifikasi dan memproses pemanfaatan lubang bekas tambang (void) sebagai cadangan sumber air untuk mengairi areal persawahan warga melalui pembangunan saluran khusus.
“Sehingga hari-hari void-void yang sudah diidentifikasi untuk bisa melakukan pengairan-pengairan di sawah-sawah kita itu akan kita lakukan treatment untuk pembangunan saluran, sehingga air-air itu bisa mengalir ke sawah-sawahan kita,” pungkasnya.(Adv/Diskominfo Kukar)







