Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur – Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) memperketat sistem pengawasan penyaluran bantuan ternak sapi bagi kelompok tani. Guna mengantisipasi penularan penyakit hewan menular serta mencegah klaim kepemilikan sepihak oleh individu, Distanak Kukar mengalihkan pola pemeliharaan dari perorangan menjadi sistem kandang komunal.
Kebijakan ini mewajibkan seluruh ternak bantuan pemerintah ditempatkan dalam satu lokasi kandang bersama yang dikelola secara kolektif oleh kelompok penerima.
Kepala Distanak Kukar, Moh. Rifani, menjelaskan bahwa skema terpusat ini mempermudah pemerintah daerah dalam melakukan pemantauan populasi, evaluasi kesehatan, hingga penanganan darurat jika terjadi potensi wabah.
“Pemantauan dan evaluasinya lebih mudah. Kalau terjadi wabah, pengawasan serta penanganannya juga lebih terkoordinasi karena ternak berada di satu lokasi,” ujar Rifani, Rabu (4/11/2026).
Selain pertimbangan mitigasi penyakit, perombakan pola pemeliharaan ini dimaksudkan untuk memperkuat kelembagaan kelompok tani. Distanak Kukar menegaskan bahwa sapi bantuan yang diberikan merupakan aset kelembagaan kelompok, sehingga manfaat dan keuntungannya wajib dirasakan oleh seluruh anggota.
Dengan sistem kandang bersama, kelompok tani mengatur jadwal piket pemeliharaan secara bergiliran untuk menjaga kesehatan dan pakan ternak.
“Kalau sebelumnya sapi dibagikan kepada anggota, sekarang polanya kita ubah. Pengelolaannya diarahkan melalui kandang komunal milik kelompok. Status ternak itu milik kelompok, bukan perorangan. Ketika nantinya dijual, hasilnya bisa memberikan penghasilan bagi anggota,” katanya.
Di luar manfaat proteksi kesehatan dan penguatan organisasi, pemusatan lokasi ternak juga mempermudah pengolahan limbah kotoran sapi. Kotoran ternak yang terkumpul di satu titik dapat diolah menjadi produk bernilai tambah, seperti pupuk organik dan sumber energi biogas.
Rifani menyebutkan, pengolahan limbah ini memberikan pendapatan harian bagi kelompok tanpa harus bergantung sepenuhnya pada hasil penjualan daging.
“Menurut saya, beternak bukan hanya memanen daging. Kotoran ternak yang dihasilkan setiap hari juga bisa menjadi sumber pendapatan. Biogasnya bisa dimanfaatkan untuk bahan bakar kompor. Setelah gasnya digunakan, sisa limbah padatnya masih bisa diolah menjadi pupuk,” pungkasnya.(Adv/Diskominfo Kukar)







